PANDEGLANG, INST-Media.id – Kesenian Dzikir Saman dari Pandeglang, Banten, menjadi salah satu tradisi budaya religius yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Menggunakan perpaduan gerakan tari dan syair-syair berjanji, kesenian ini kerap tampil dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya mengagungkan Asma Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga menjadi media ekspresi spiritual yang telah diwariskan lintas generasi sejak Proklamasi Kemerdekaan RI.
Dzikir Saman merupakan kesenian rakyat khas Pandeglang, Banten, yang memiliki ciri khas dalam menampilkan gerakan tari dengan lantunan syair-syair religius. Syair-syair ini biasa disebut berjanji atau beluk, yang menceritakan sejarah Nabi Muhammad SAW dan kemuliaan-Nya. Salah satu babak yang paling dinanti oleh penonton adalah bagian Asroqol, di mana pemain melantunkan vokal tinggi yang khas dengan gerakan yang dinamis.
Ketua kelompok Dzikir Saman Pandeglang menjelaskan bahwa kesenian ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak tahun 1945. “Kami merupakan generasi kelima yang melanjutkan kesenian ini. Kami berharap tradisi ini bisa terus dilestarikan, terutama dalam perayaan Maulid Nabi dan acara-acara besar lainnya,” katanya saat ditemui pada Jumat (27/9/2024).
Warga Kampung Susukan, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, menjadi salah satu pusat perkembangan kesenian ini. Mulai dari remaja hingga dewasa, mereka kerap berlatih bersama untuk mempersiapkan penampilan dalam berbagai acara. Selain tampil di perayaan Maulid Nabi, mereka juga sering diundang dalam acara kenegaraan hingga kunjungan pejabat daerah.
Kepala Desa Sukarame, Endang Trisna, menyebutkan bahwa Dzikir Saman sudah menjadi bagian integral dari identitas budaya desa tersebut. “Acara-acara besar seperti Maulid Nabi biasanya dimeriahkan oleh kesenian Dzikir Saman. Ini menjadi kebanggaan kami, apalagi banyak desa lain yang ikut melestarikannya,” ungkapnya.
Keberadaan kesenian Dzikir Saman ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai wujud nyata dari pelestarian budaya religius yang telah berjalan selama puluhan tahun. Para pelakunya, yang kebanyakan berprofesi sebagai buruh dan nelayan, berharap agar tradisi ini tidak tergerus oleh modernisasi dan tetap menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Pandeglang. *(RED)



