CILEGON, iNST-Media.id – Para pengusaha angkutan penyeberangan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) mengaku merugi setelah membantu angkutan Lebaran di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon. Penyebab utama adalah tingginya biaya operasional akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Ketua GAPASDAP, Khoiri Soetomo, mengungkapkan bahwa sejumlah kapal yang dialihkan untuk mengangkut pemudik dari Pelabuhan Merak ke Ciwandan tidak mendapatkan akses BBM bersubsidi. “Kami diminta membantu kelancaran arus mudik, tetapi kapal-kapal kami harus beroperasi dengan BBM industri yang harganya jauh lebih mahal. Ini jelas memberatkan pengusaha,” ujarnya.

Menurut Khoiri, sembilan kapal anggota GAPASDAP ikut serta dalam operasional mudik tahun ini di Pelabuhan Ciwandan. Namun, banyak di antaranya tidak memiliki Surat Keputusan (SK) penetapan BBM bersubsidi, sehingga biaya operasional melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan kapal yang beroperasi di lintasan reguler Merak-Bakauheni.
“Kami berharap pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, memberikan solusi agar kapal swasta yang membantu angkutan Lebaran juga bisa mendapatkan BBM bersubsidi, sebagaimana kapal-kapal milik BUMN,” tambah Khoiri.
Selain itu, GAPASDAP meminta kelonggaran dari Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri terkait pengalihan arus kendaraan dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Ciwandan dan Bandar Bakau Jaya saat terjadi lonjakan volume kendaraan. Langkah ini dinilai perlu agar tidak hanya pengusaha, tetapi juga pemudik mendapatkan kepastian dalam perjalanan mereka.
Dengan kondisi ini, pengusaha angkutan berharap ada evaluasi dari pemerintah agar operasional mereka tetap berkelanjutan tanpa harus menanggung kerugian besar setiap musim mudik.



