BANJAR, INST-Media.d – Wajah letih dan mata kosong itu menyimpan cerita yang membuat hati siapa pun ikut terenyuh. Sunariah (28), seorang ibu dua anak asal Lebak, Banten, yang ditemukan terlantar selama dua hari di Terminal Tipe A Kota Banjar. Ia kehabisan ongkos dan diduga mengalami depresi dalam perjalanan pulangnya dari Surabaya menuju kampung halaman.
Sunariah awalnya hanya ingin pulang ke rumah. Tapi perjalanan darat yang panjang malah jadi mimpi buruk. Di setiap terminal yang ia lewati, ia diturunkan karena tak mampu menjelaskan tujuannya dengan jelas. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di Banjar—sendirian, tanpa bekal, dan tak tahu harus ke mana.
Beruntung, petugas terminal yang peduli segera melaporkan keberadaan Sunariah kepada Jabar Bergerak Kota Banjar. Ketua Jabar Bergerak, Ari Faturohman, langsung menggerakkan tim relawan untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
“Kami langsung kirim relawan ke lokasi begitu ada laporan. Waktu ditemukan, kondisinya cukup memprihatinkan,” ungkap Ari dalam unggahan sebuah akun Instagram @infolebakbanten
Relawan Jabar Bergerak, Imas Permasih, yang turun langsung ke lokasi menceritakan bahwa Sunariah tampak kebingungan dan sulit diajak bicara. Besar kemungkinan ia sedang berada dalam kondisi mental yang tidak stabil akibat tekanan hidup dan perjalanan panjang tanpa kepastian.
Berkat kerja sama cepat antara relawan, Polsek Banjar, dan Dinas Sosial P3A, Sunariah akhirnya mendapat pendampingan, makanan, dan tiket bus untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten.
Identitas lengkapnya berhasil dikonfirmasi lewat KTP yang ia bawa. Ia pun akhirnya bisa pulang dengan selamat dan kembali ke pelukan keluarganya.
Kisah Sunariah jadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, masih banyak orang yang terjebak dalam kesulitan tanpa suara. Namun di balik itu, masih ada pula orang-orang baik yang cepat tanggap—siap mengulurkan tangan di saat paling dibutuhkan.
“Kadang seseorang cuma butuh sedikit bantuan agar bisa bangkit lagi. Semoga kisah ini jadi pengingat untuk kita semua agar lebih peka,” ujar Imas.
/nsa/



