Manajemen menyampaikan bahwa perbaikan kinerja tersebut merupakan hasil dari restrukturisasi kewajiban, termasuk program pelunasan dipercepat dengan keringanan (haircut), serta pengendalian biaya yang berkelanjutan. Hingga Triwulan III 2025, biaya usaha berhasil ditekan sebesar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, Krakatau Steel mencatat volume produksi baja konsolidasi sebesar 740 ribu ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 540 ribu ton.
- Advertisement -
Sementara itu, volume penjualan baja konsolidasi menunjukkan tren kenaikan sepanjang 2025, yakni 226 ribu ton pada Kuartal I, 244 ribu ton pada Kuartal II, dan meningkat menjadi 269 ribu ton pada Kuartal III.
Perseroan juga menyampaikan penguatan bisnis inti melalui pengembangan infrastruktur pendukung, antara lain peningkatan kapasitas layanan kepelabuhanan, pengembangan logistik baja terintegrasi, serta pengelolaan Kawasan Industri Krakatau seluas 2.000 hektare. Selain itu, Krakatau Steel akan mengoperasikan fasilitas Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolling Mill (CRM) secara mandiri guna meningkatkan efisiensi dan pengendalian operasional.
- Advertisement -
Direktur Utama Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, menyatakan bahwa pencapaian tersebut menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk memperkuat kontribusi terhadap industri baja nasional. Menurutnya, transformasi perusahaan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
RUPSLB 2025 juga menetapkan susunan pengurus baru Perseroan yang diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan strategi transformasi dan memperkuat daya saing Krakatau Steel ke depan.