JAKARTA, INST-Media.id – Di tengah lonjakan harga dan tekanan ekonomi, perilaku belanja masyarakat mengalami perubahan menarik. Salah satu istilah baru yang kini populer adalah “Rojali” (Rombongan Jarang Beli), yang menggambarkan pengunjung mal atau pusat perbelanjaan yang datang berkelompok tetapi jarang melakukan transaksi.
Banyak pengunjung hanya sebatas window shopping, membandingkan harga, atau sekadar menikmati suasana mall. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya istilah turunan lain, seperti Rohana (Rombongan Hanya Nanya), Rohali (Rombongan Hanya Lihat-lihat), hingga Rotasi (Rombongan Tanpa Transaksi). Semuanya menandakan perubahan perilaku konsumen yang kini lebih selektif, bukan sekadar impulsif.
Mengapa Fenomena Rojali Marak?
Kondisi inflasi membuat daya beli masyarakat melemah, sehingga belanja lebih berfokus pada kebutuhan pokok. Studi konsumen 2023 mencatat penurunan aktivitas pembelian impulsif hingga 29%. Konsumen cenderung mengunjungi pusat perbelanjaan untuk window shopping atau survei harga sebelum benar-benar membeli.
Selain itu, keramaian berlebihan (crowding) di mal justru memicu rasa tidak nyaman, yang akhirnya membuat pengunjung cepat berlalu tanpa melakukan transaksi.
Fenomena Rojali memberikan tantangan besar bagi sektor ritel. Meski pusat perbelanjaan terlihat ramai, transaksi justru minim, sehingga pelaku usaha perlu menata ulang strategi pemasaran. Salah satu cara efektif adalah dengan membuat display produk lebih interaktif, agar pengunjung terdorong untuk mencoba atau membeli.
Selain itu, promosi yang kurang tepat sasaran sering tidak efektif di tengah konsumen yang semakin selektif. Oleh karena itu, penggunaan visual merchandising kreatif bisa menjadi solusi untuk menarik perhatian dan membangkitkan minat beli.
Terakhir, menghadapi konsumen yang makin hati-hati, pelaku ritel perlu menerapkan strategi omnichannel, yaitu menggabungkan pengalaman belanja offline dan online agar interaksi konsumen dapat segera berubah menjadi transaksi nyata.
Fenomena Rojali bukan hanya sekadar gaya hidup window shopping, tetapi cerminan kondisi ekonomi masyarakat. Dengan memahami pola belanja yang lebih selektif ini, pelaku ritel bisa mengembangkan strategi untuk mengubah kunjungan ramai menjadi penjualan nyata. *(RED)



