LEBAK, INST-Media.id – Kabar duka datang dari dunia sosial dan kemanusiaan di Banten. Ais Palet, pendiri sekaligus penggerak Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD) Banten, tutup usia pada Rabu (9/4/2025) pukul 15.50 WIB di ruang HCU lantai 3 RSUD Adjidarmo, Lebak, Banten.
Almarhum sebelumnya sempat dirawat intensif sejak usai Lebaran karena menderita penyakit jantung. Kondisinya sempat memburuk sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.
Kepergian Ais meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tapi juga bagi komunitas kemanusiaan yang ia bangun dan perjuangkan. Ucapan belasungkawa mengalir deras di media sosial dan grup komunitas. Salah satu pesan yang beredar di grup WhatsApp Perkumpulan Urang Banten (PUB) Lebak.
“Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, duka cita yang mendalam atas kepulangan rekan, sahabat dan anggota PUB Lebak, Ki @Kang Ais Falet. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan mendapatkan surga terbaik, Aamiinn,” tulis pesan duka tersebut.
Ais Palet dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tak kenal lelah mengabdi demi kemanusiaan. Melalui KSSD, ia menggugah kepedulian masyarakat terhadap pentingnya donor darah. Komunitas tersebut telah aktif di tujuh kabupaten/kota di Banten dan telah menjembatani ribuan pendonor untuk pasien yang membutuhkan.
Gerakan ini bermula dari pengalaman pribadi almarhum saat sang istri kesulitan mendapatkan darah di masa pandemi. Sejak saat itu, Ais berkomitmen membangun jaringan kemanusiaan, utamanya bagi pasien talasemia, cuci darah, hingga korban bencana alam.
Meski mengandalkan donasi sukarela, semangat Ais tak pernah padam. Ia kerap mengajak masyarakat menjadikan donor darah sebagai gaya hidup yang menyehatkan sekaligus menyelamatkan nyawa.
Selain aktif sebagai penggerak donor darah melalui KSSD, almarhum juga merupakan anggota aktif Perkumpulan Urang Banten (PUB) Kabupaten Lebak. Ia dikenal giat turun langsung ke lokasi bencana, seperti saat banjir bandang menerjang Cigobang dan Bayah. Bersama PUB Lebak, Ais terlibat langsung dalam distribusi bantuan dan aksi sosial lainnya.
Kiprah kemanusiaan Ais dimulai dari pengalaman pribadi ketika istrinya kesulitan mendapat darah saat pandemi. Sejak itu, ia mendirikan KSSD dan berhasil menggerakkan ribuan pendonor di tujuh kabupaten/kota di Banten, terutama untuk pasien talasemia, cuci darah, dan korban bencana.
Ais kerap mengajak masyarakat menjadikan donor darah sebagai gaya hidup. Meski bergerak dengan dana swadaya, semangatnya tak pernah padam.
Kini, sosok dermawan itu telah tiada. Namun semangat dan jejak perjuangannya akan terus hidup dalam setiap tetes darah yang disumbangkan dan setiap aksi sosial yang menginspirasi. *(EPL/RED)



