PANDEGLANG, INST-Media.id – Seorang kakek berusia 75 tahun di Kampung Pangbogaan, Desa Banyu Biru, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, harus bertahan hidup dalam kondisi yang memilukan. Sanian, nama kakek tersebut, tinggal seorang diri di sebuah gubuk reyot yang jauh dari permukiman warga. Tanpa listrik dan fasilitas layak, ia menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.
Selama dua dekade terakhir, Sanian menetap di bangunan berdinding bambu yang sudah rapuh, beratapkan terpal, dan beralaskan tanah. Tidak ada perabotan mewah atau kasur empuk, hanya beberapa barang sederhana yang menjadi saksi kehidupannya yang penuh perjuangan.
“Saya sudah tinggal di sini lama sekali, sendirian. Tidak ada yang bisa saya andalkan,” ujar Sanian dengan nada lirih.
Anak satu-satunya memilih untuk hidup terpisah, sementara istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Sanian harus berjuang sendiri tanpa bantuan keluarga terdekat.
Karena kondisi fisiknya yang semakin lemah, Sanian sudah tidak mampu bekerja. Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan belas kasihan warga sekitar yang sering memberikan makanan atau kebutuhan sehari-hari. Sesekali, ia mengumpulkan buah-buahan yang jatuh dari pohon dan menjualnya untuk mendapatkan sedikit uang.
“Saya hanya berharap bisa punya rumah yang layak, supaya tidak takut roboh atau bocor saat hujan,” kata Sanian penuh harap.
Menanggapi kondisi ini, Camat Labuan Yayat Hidayat mengungkapkan bahwa Sanian sebenarnya sudah menerima bantuan langsung tunai (BLT). Namun, untuk perbaikan rumah, pihak kecamatan akan mengajukan permohonan bantuan kepada Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Pandeglang.
“Kami akan berusaha menyurati pihak terkait agar Pak Sanian bisa mendapatkan bantuan rumah yang lebih layak,” ujar Yayat.
Kisah Sanian menjadi potret nyata perjuangan warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan. Semoga ada kepedulian dari berbagai pihak agar ia bisa menjalani sisa hidupnya dengan lebih layak. (RED)



