LEBAK, iNST-Media.id – Warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Cijaku, Lebak, baru-baru ini dikejutkan dengan penemuan seekor ular tanah (Calloselasma rhodostoma) yang tengah bertelur di kebun mereka. Kejadian ini semakin memicu kekhawatiran, terutama dengan meningkatnya kasus gigitan ular yang terjadi di wilayah tersebut.
Kiki Sumantri, salah satu warga yang menemukan ular tanah tersebut, mengungkapkan bahwa kejadian itu sangat tidak terduga. “Kami sedang membersihkan rumput di kebun, tiba-tiba melihat ular besar. Ketika didekati, ternyata ada banyak telur yang terlihat,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (10/4/2025).
Ular tanah yang ditemukan berukuran besar dan berwarna kecoklatan ini sangat berbahaya. Ular ini terkenal dengan kemampuannya berkamuflase di antara dedaunan, sehingga sering kali tidak terlihat oleh warga yang sedang bekerja di kebun.
Penemuan ular tanah yang tengah bertelur ini mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman gigitan ular yang semakin meningkat. Dalam dua bulan pertama 2025, tercatat sudah ada 154 kasus gigitan ular di Lebak, sebagian besar menimpa petani yang tidak menggunakan pelindung seperti sepatu boot saat bekerja di kebun.
Pada tahun 2024, lebih dari 800 kasus gigitan ular tanah tercatat di Kabupaten Lebak. RSUD Adjidarmo menjadi rumah sakit dengan jumlah kasus tertinggi. Gigitan ular tanah dapat menyebabkan kerusakan jaringan tubuh yang serius jika tidak segera ditangani, bahkan beberapa kasus berujung pada kematian.
Pemerintah Kabupaten Lebak mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama di daerah-daerah yang dikenal sebagai tempat tinggal ular, seperti Leuwidamar, Cipanas, dan Sajira. Warga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan kebun, serta mengenakan pelindung saat beraktivitas di luar rumah.
Dengan meningkatnya kasus gigitan ular, diharapkan pemerintah daerah juga meningkatkan fasilitas medis di daerah-daerah terpencil agar penanganan gigitan ular dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif. *(EPL/RED)



