LEBAK, INST-Media.id – Di tengah arus modernisasi, warga Kampung Cikunting, Desa Cibungur, Kecamatan Cigemblong, Lebak, tetap setia melestarikan tradisi dzikir kipas bambu yang sudah ada sejak tahun 1955. Tradisi unik ini menjadi cara mereka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat dan kebersamaan.
Ratusan warga dari berbagai usia berkumpul di balai desa, duduk rapi, dan melantunkan dzikir dari kitab Al-Barzanji sambil mengayunkan kipas dari anyaman bambu. Gerakan kipas yang serempak membuat suasana semakin sakral, seolah-olah menghadirkan harmoni antara lantunan dzikir dan gerak tubuh.
Setelah dzikir selesai, warga memberikan saweran berupa uang, permen, makanan ringan hingga hasil bumi kepada peserta dzikir sebagai bentuk rasa syukur. Tradisi ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
Ahmad, salah satu tokoh masyarakat, mengatakan tradisi ini diwariskan turun-temurun dari para sesepuh. “Tradisi ini sudah ada sejak sekitar tahun 1955. Selain sebagai bentuk cinta kepada Nabi, ini juga menjadi pengikat kebersamaan warga,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).
Ace, warga lainnya, menyebutkan bahwa dulu dzikir kipas bambu digelar di delapan kampung, namun kini hanya tersisa di dua kampung: Cikunting dan Cilangkahan. “Kami akan terus menjaga tradisi ini agar tidak hilang dimakan zaman,” katanya.
Tradisi dzikir kipas bambu menjadi bukti bahwa modernisasi boleh berkembang, tapi kearifan lokal tetap harus dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Lebak. *(RED)



