CILEGON, INST-Media.id – Batik asal Kota Cilegon, Banten kini tak hanya dikenal di Banten. Lewat tangan kreatif Rina Rahmayanti, pemilik Rinara Batik, produk lokal ini bahkan menembus pasar luar negeri seperti Qatar dan Arab Saudi.
Berdiri sejak 2012, Rinara Batik fokus pada produksi batik tulis. Berlokasi di Perumahan Jalan Garuda Blok 25 No.4, usaha ini berawal dari proses belajar mandiri yang kemudian berkembang jadi pelaku UMKM yang produktif.

“Kami memulai dengan niat belajar. Tapi kami serius mengembangkan batik tulis, karena batik bukan hanya kain, tapi juga identitas budaya,” ujar Rina, saat ditemui Rabu (30/7/2025).
Batik Cilegon Tembus Qatar dan Arab Saudi
Rina bercerita, pesanan dari luar negeri datang melalui agen di Qatar dan teman sesama diaspora Indonesia di Arab Saudi. Permintaan biasanya datang dari komunitas WNI yang ingin memperkenalkan batik dalam acara budaya.
“Mereka pesan desain khusus, gabungan unsur Arab dan khas Indonesia. Itu tantangan sekaligus kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.
Tak hanya fokus berjualan, Rinara Batik juga aktif dalam pelatihan membatik. Rina melatih anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga penyandang disabilitas. Sejak 2023, ia bekerja sama dengan PLN UID Banten lewat program PLN Peduli untuk memberikan pelatihan membatik bagi siswa disabilitas.
“Kami ingin batik jadi pintu masuk bagi mereka agar bisa mandiri secara ekonomi,” katanya.
Program ini telah melatih 62 siswa tuna rungu dan autisme dari dua sekolah di Cilegon. Bahkan, beberapa hasil karya mereka sudah dijual dalam bazar, dan salah satu siswa kini bekerja di Rinara Batik.
Soal harga, Rinara Batik cukup terjangkau. Produk dibanderol mulai Rp150.000 hingga Rp190.000, tergantung jenis kain dan proses pembuatannya. Untuk batik tulis, tentu harganya lebih tinggi karena prosesnya memakan waktu dan ketelitian.
Sebagai pelaku usaha batik lokal, Rina berharap pemerintah lebih aktif mendorong industri kreatif seperti batik di Cilegon. Menurutnya, kota industri ini punya banyak potensi visual untuk dijadikan motif batik, seperti kapal, pabrik, atau simbol budaya lokal.
“Kami ingin batik Cilegon dikenal bukan cuma di lokal, tapi juga nasional bahkan global,” pungkasnya. *(RED)



