Thursday, October 15, 2026
header ads 728x90
HomeBeritaBantenEkonomi Sulit, Warga Pandeglang Rela Memulung Batubara Berisiko

Ekonomi Sulit, Warga Pandeglang Rela Memulung Batubara Berisiko

- Advertisement -
space iklan 300x250
- Advertisement -

PANDEGLANG, INST-Media.id – Warga di Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa mengambil risiko dengan memulung batubara yang tumpah di lautan, meskipun menyadari bahayanya bagi kesehatan. Puluhan pria dan wanita di Desa Labuan, Kecamatan Labuan, terlihat mengumpulkan tumpahan batubara dari kapal yang tenggelam di perairan Pulau Popole. Mereka bekerja tanpa alat pelindung diri (APD), hanya dengan tangan kosong memasukkan batubara ke dalam karung.

Harga batubara yang tumpah ini sebenarnya dapat dimanfaatkan, namun para pemulung tahu bahwa bahan tersebut mengandung unsur berbahaya seperti arsenik, kromium, timbal, dan merkuri yang bisa merusak kesehatan jika terpapar dalam jangka panjang. Salah satu resiko utama adalah gangguan pada fungsi paru-paru akibat debu batubara.

Bahkan, Dokter Puskesmas Labuan, Dr. Akbar Mulky, mengingatkan bahwa paparan batubara bisa menyebabkan kerusakan paru-paru jika terus-menerus dilakukan tanpa perlindungan yang tepat.

- Advertisement -
space iklan 300x250

“Para warga Pandeglang memulung batubara di pinggir laut demi memenuhi kebutuhan hidup, meskipun risiko kesehatan mengancam,” kata Dr. Akbar Mulky, dokter Puskesmas Labuan, Selasa (7/1/2025).

Namun, keterbatasan ekonomi membuat warga terpaksa mengambil pekerjaan ini. Para pemulung hanya dibayar sekitar Rp5.000 untuk setiap karung batubara yang berhasil mereka kumpulkan. Mereka menyebutkan bahwa tanpa APD dari pihak perusahaan, mereka tidak bisa berbuat banyak meskipun sadar akan risiko kesehatan yang bisa terjadi.

- Advertisement -
space iklan 300x250

“Saya tahu itu berbahaya, tetapi ini satu-satunya pekerjaan yang ada. Kami butuh uang untuk makan sehari-hari,” kata salah seorang pemulung.

Sementara itu, pihak Syahbandaran Pelabuhan Kelas III Labuan juga telah mengingatkan perusahaan terkait untuk segera mengangkat kapal tongkang yang kandas dan mengevakuasi batubara tersebut. Namun, pihak perusahaan tidak memberikan alat pelindung yang memadai bagi para pemulung. Syahbandar juga melarang pemulungan batubara yang terendam di dasar laut karena kondisi gelombang yang tinggi.

“Kami sudah mengingatkan pihak PT Trans Logistik Perkasa untuk segera mengevakuasi kapal tongkang yang kandas dan ribuan ton batubara yang tumpah, serta meminta mereka untuk tidak melibatkan warga tanpa perlindungan yang memadai,” ujar Nopriantoni.

Pemulungan batubara ini dimulai setelah kapal tongkang pembawa batubara kandas beberapa bulan lalu, dan hingga kini, sejumlah ton batubara masih tersebar di perairan sekitar Labuan. Para pemulung berharap pemerintah dan perusahaan segera memberikan solusi yang lebih baik agar mereka bisa bekerja dengan aman tanpa mengorbankan kesehatan mereka.

Sementara itu, masyarakat setempat terus berharap harga batubara yang tumpah bisa segera diproses tanpa harus melibatkan mereka dalam kegiatan berisiko ini. *(RED)

- Advertisement -
space iklan 300x250
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
space iklan 300x250

Most Popular