PANDEGLANG, INST-Media.id – Meski zaman sudah berubah dan masjid kini lebih banyak memakai pengeras suara digital, bedug tradisional ternyata masih tetap diminati. Di Pandeglang, Banten, kerajinan bedug bahkan masih bertahan berkat tangan terampil Saprudin, seorang pengrajin yang sudah menekuni profesi ini lebih dari 45 tahun.
Di bengkel sederhana miliknya di Kampung Karang Tanjung, suara pukulan kayu menjadi saksi perjalanan Saprudin menjaga tradisi turun-temurun sejak kecil. Sejak usia 4 tahun, ia sudah belajar membuat bedug dari kedua orang tuanya. Kini, hasil karyanya tidak hanya dipakai di masjid-masjid Pandeglang, tapi juga sampai ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri.
Rahasia bedug buatan Saprudin ada pada bahan bakunya. Ia selalu menggunakan kayu kelapa tua yang kuat, dipadukan dengan kulit kerbau atau sapi, lalu diproses manual dengan penuh ketelitian. Tak heran, suara bedugnya nyaring dan khas. “Satu bedug biasanya saya selesaikan dalam 5–6 hari,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Harga bedug karyanya berkisar Rp4–5 juta per unit, tergantung ukuran. Meski permintaan menurun karena masyarakat lebih memilih speaker digital, Saprudin tetap semangat. Bahkan, ia kini mengajarkan keterampilan membuat bedug kepada generasi muda agar tradisi ini tidak punah.
“Bedug bukan hanya alat penanda salat, tapi juga simbol budaya Islam Nusantara. Selama masih ada yang butuh, saya akan terus membuatnya,” tegas Saprudin.
Semangat Saprudin membuktikan bahwa meski dunia semakin modern, tradisi lokal masih punya tempat di hati masyarakat. *(RED)



