LEBAK, INST-Media.id – Kain tenun khas Suku Baduy, yang identik dengan warna putih dan biru tua serta tekstur kasar, kini mulai merambah pasar digital. Meskipun masih diproduksi secara tradisional dengan menggunakan alat dan bahan alami, kain tenun ini terus berkembang dan memiliki motif yang semakin menarik perhatian konsumen modern.
Di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, kaum perempuan Suku Baduy Luar setiap hari sibuk menenun kain dengan alat tenun tradisional. Proses pembuatan dimulai dengan memintal kapas menjadi benang, dan pewarnaan kain dilakukan menggunakan bahan alami seperti kunyit. Motif-motif yang terinspirasi dari alam, seperti garis warna-warni, memberikan sentuhan khas pada kain tenun ini.
Untuk pemasaran, selain dijual langsung di rumah-rumah warga Baduy Luar, kain tenun ini kini tersedia di marketplace dan platform belanja online. Wisatawan yang datang ke kawasan Baduy tidak hanya tertarik untuk membeli kain tenun, tetapi juga menikmati keindahan alam dan suasana tradisional yang masih terjaga.

Hanah, salah seorang penenun Baduy, merasa bersyukur bisa menjual kain tenun kepada para wisatawan. Selain melayani pembeli langsung, kain tenun ini juga telah dipasarkan ke berbagai daerah melalui media online.
“Untuk harga kain tenun Baduy bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp300.000, tergantung ukuran dan motifnya,” ujarnya baru-baru ini.
Kain tenun Suku Baduy tidak hanya digunakan sebagai pakaian adat, tetapi juga sebagai dekorasi rumah, seperti taplak meja, sehingga menjadi suvenir unik bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah Baduy. *(RED)



