Friday, September 4, 2026
header ads 728x90
HomeRagamSejarah Borobudur Masuk Dunia Digital, 8 Wahana Interaktif Ini Bisa Jadi Pilihan...

Sejarah Borobudur Masuk Dunia Digital, 8 Wahana Interaktif Ini Bisa Jadi Pilihan Liburan Edukatif

- Advertisement -
space iklan 300x250
- Advertisement -

JAKARTA, INST-Media.id – Sejarah Candi Borobudur kini dikemas dengan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) melalui pameran Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia lantai 8.

Pameran yang dibuka sejak 1 September 2026 ini menghadirkan delapan wahana dengan konsep immersive dan interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat informasi tentang Borobudur, tetapi juga diajak mengenal sejarahnya melalui visual, sensor gerak, permainan, hingga pertunjukan imersif.

Perjalanan dimulai melalui Sapa Borobudur, yang memperkenalkan lanskap dan latar zaman ketika candi tersebut dibangun. Sajian visual ini menjadi pengantar untuk memahami hubungan antara Borobudur, alam, manusia, dan kepercayaan pada masa lalu.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Selanjutnya, Harmoni Borobudur menggunakan sensor gerak untuk menghidupkan gambaran sejumlah satwa yang terdapat dalam relief, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah. Gerakan pengunjung dapat membuat visual satwa tersebut memberikan respons.

Ada pula Batu Carita yang menghadirkan empat tokoh, yakni Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara. Wahana ini memperkenalkan kehidupan Wangsa Sailendra serta kisah di balik pembangunan Borobudur.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Sementara Buku Carita mengangkat perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan sang ayah, Raja Samaratungga, membangun Borobudur.

Dua relief besar Borobudur juga dihadirkan melalui teater imersif dalam Karmawibhangga dan Avadana. Keduanya mengangkat kisah berbeda, mulai dari hukum sebab-akibat hingga cerita Pangeran Sudhana dan Putri Manohara.

Pengalaman berikutnya adalah Mandala, yang memanfaatkan gawai pengunjung untuk menjelajahi Borobudur sekaligus rute sakral dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk. Ada pula Jelajah Borobudur yang mengemas perjalanan menuju Borobudur dan candi di sekitarnya dalam bentuk permainan.

Rangkaian pameran ditutup melalui Asal Mula Borobudur The Movie di auditorium yang memiliki kapasitas 150 kursi. Sajian tersebut membawa pengunjung mengenal kisah mengenai penciptaan Borobudur dan relief-reliefnya.

Di balik penggunaan layar, sensor, dan proyeksi digital tersebut, pengembang Purwacarita Borobudur menerapkan konsep Ethical AI. Kecerdasan buatan digunakan sebagai alat bantu visualisasi, sedangkan akurasi sejarah tetap menjadi dasar utama materi yang ditampilkan.

Kurator sejarah Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, M.Phil., menilai tantangan utama dalam mengemas sejarah melalui teknologi adalah menjaga konteks dan nuansa sejarah agar tidak hilang.

Menurutnya, teknologi seharusnya mengikuti disiplin sejarah, bukan sebaliknya.

Pameran ini merupakan kolaborasi Galeri Indonesia Kaya, Bening Digital Indonesia, dan Curaweda. Purwacarita Borobudur terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. *(DOD/RED)

 

- Advertisement -
space iklan 300x250
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
space iklan 300x250

Most Popular