JAKARTA, INST-Media.id – Keputusan TikTok untuk menghapus fitur TikTok Live menuai sorotan tajam dari pelaku usaha online. Fitur yang selama ini menjadi sarana utama berjualan dan berinteraksi langsung dengan konsumen itu resmi dinonaktifkan pada akhir Agustus 2025.
Bagi banyak penjual, TikTok Live bukan hanya sekadar fitur siaran langsung, tetapi juga sumber penghasilan utama. Dengan fitur ini, penjual dapat mempresentasikan produk secara real-time, menjawab pertanyaan konsumen, hingga memberikan promo eksklusif yang terbukti meningkatkan penjualan.
Kini, ribuan penjual online mengaku kesulitan mencari platform alternatif yang mampu menghadirkan interaksi seefektif TikTok Live. Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omset secara drastis sejak fitur ini dihapus.
“Sejak TikTok Live dihapus, penjualan saya turun hampir 70 persen. Padahal, sebagian besar pelanggan membeli produk saat sesi live berlangsung,” ungkap salah satu penjual fesyen online asal Jakarta.
Dampak Besar bagi UMKM dan Kreator Konten
Penghapusan TikTok Live juga dirasakan oleh para kreator konten yang selama ini bekerja sama dengan merek-merek lokal untuk melakukan promosi. UMKM yang baru berkembang di platform TikTok kini kehilangan jalur pemasaran efektif yang selama ini membantu mereka menjangkau pasar lebih luas.
Pengamat ekonomi digital menilai keputusan ini berpotensi memperlambat pertumbuhan sektor perdagangan online. “Live commerce adalah tren masa depan e-commerce. Menghapus fitur ini sama saja memutus jalur pemasaran yang sudah terbukti efektif, terutama bagi UMKM,” kata seorang analis e-commerce di Jakarta.
Belum Ada Penjelasan Resmi TikTok Indonesia
Hingga kini, TikTok Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait alasan penghapusan fitur live. Beberapa sumber menyebutkan adanya penyesuaian kebijakan internal dan regulasi baru yang mempengaruhi operasional TikTok di Indonesia.
Para pelaku usaha berharap TikTok segera memberikan solusi atau menghadirkan fitur pengganti yang dapat mendukung keberlanjutan bisnis online. Tanpa langkah cepat, ribuan penjual online berpotensi kehilangan mata pencaharian.



