Monday, September 7, 2026
header ads 728x90
HomeRagamAbu Gunung Anak Krakatau Meluas ke Banten-Lampung hingga Jabodetabek, Lindungi Keluarga dengan...

Abu Gunung Anak Krakatau Meluas ke Banten-Lampung hingga Jabodetabek, Lindungi Keluarga dengan Cara Ini

- Advertisement -
space iklan 300x250
- Advertisement -

BANTEN, INST-Media.id — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga Minggu (6/9/2026). Abu vulkanik yang dihasilkan erupsi dapat terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Banten, Lampung hingga kawasan Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama keluarga yang memiliki anak kecil, lansia, maupun anggota keluarga dengan riwayat asma dan penyakit jantung.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material tersebut mengandung silika kristalin dengan partikel yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata dan kulit.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa gatal hingga mata perih dapat muncul setelah seseorang terpapar abu vulkanik.

Dokter spesialis anak dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) menjelaskan, paparan abu vulkanik juga perlu menjadi perhatian khusus pada anak-anak.

- Advertisement -
space iklan 300x250

“Anak dengan asma bisa kambuh dan memberat gejalanya,” papar Yogi dalam paparan “Anak dan Bencana Erupsi Gunung Berapi” yang dibagikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui akun Instagram @idai_ig.

Karena itu, masyarakat perlu melakukan sejumlah langkah perlindungan, terutama ketika abu mulai terlihat di lingkungan tempat tinggal.

Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Langkah pertama adalah membatasi aktivitas di luar ruangan. Saat kondisi udara dipenuhi abu, pintu, jendela dan ventilasi rumah sebaiknya ditutup.

Celah yang masih terbuka dapat ditutup menggunakan lakban, kain basah atau gulungan handuk agar abu tidak mudah masuk.

Pakaian dan sepatu yang terkena abu juga sebaiknya dilepas sebelum masuk rumah. Untuk membersihkan lantai, gunakan kain atau pel basah.

Hindari menyapu lantai dalam keadaan kering karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan.

Gunakan Masker Saat Harus Keluar

Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, gunakan pelindung pernapasan yang sesuai.

Baca juga:  Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Terbawa Angin Jauh, Warga Perlu Tahu Risikonya

Orang dewasa dan remaja dapat menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat. Masker bedah berlapis dapat digunakan apabila respirator tidak tersedia.

Untuk anak-anak, pilih masker dengan ukuran yang sesuai dengan wajah.

Sementara bayi dan balita tidak dianjurkan menggunakan masker N95 karena dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Perlindungan terbaik bagi kelompok ini adalah tetap berada di dalam ruangan yang aman.

Penderita asma juga disarankan selalu membawa obat pelega napas atau inhaler.

Lindungi Mata dan Kulit

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata. Warga sebaiknya tidak menggunakan lensa kontak ketika terjadi hujan abu.

Jika mata terkena abu atau terasa perih, segera bilas menggunakan air bersih yang mengalir. Jangan mengucek mata.

Ketika harus keluar rumah, gunakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan celana panjang. Setelah kembali ke rumah, segera mandi dan mengganti pakaian.

Pasokan air dan makanan juga harus dijaga. Tutup tandon, sumur dan wadah penampungan air agar tidak kemasukan abu. Buah serta sayuran perlu dicuci dengan air mengalir sebelum dikonsumsi.

Jangan Abaikan Kondisi Psikologis Anak

Erupsi gunung api tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik. Anak-anak juga dapat mengalami ketakutan atau kecemasan.

Orang tua disarankan menjelaskan kondisi dengan bahasa sederhana sesuai usia anak. Anak usia 3–5 tahun, misalnya, dapat diberi pemahaman dengan kalimat yang menenangkan.

Anak yang lebih besar dapat dijelaskan mengenai bahaya abu dan alasan keluarga harus berada di dalam rumah.

Remaja juga dapat dilibatkan dalam menyiapkan perlengkapan siaga bencana.

Orang tua sebaiknya memberikan rasa aman kepada anak dan membatasi tontonan video bencana yang berlebihan di media sosial.

Baca juga:  Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Terbawa Angin Jauh, Warga Perlu Tahu Risikonya

Kenali Tanda Bahaya

Paparan abu perlu mendapatkan perhatian medis jika muncul gejala yang semakin berat.

Segera bawa anggota keluarga ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas sangat cepat, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, batuk terus-menerus, atau mata merah disertai nyeri hebat yang tidak membaik setelah dibilas.

Pada bayi, kondisi seperti sangat lemas, rewel berlebihan atau malas menyusu juga perlu segera diperiksakan.

Siapkan Perlengkapan Darurat

Untuk menghadapi kemungkinan sebaran abu yang masih berlanjut, masyarakat dapat menyiapkan masker cadangan, kacamata pelindung, air minum, makanan yang tidak mudah basi, plastik pelindung peralatan elektronik, senter, lampu darurat, radio dan baterai cadangan.

Kotak P3K, obat-obatan pribadi, obat pelega napas, serta peralatan untuk membersihkan abu seperti sekop dan kain pel juga sebaiknya tersedia.

Untuk persediaan air minum, panduan menyarankan sekitar 3–4 liter per orang per hari untuk kebutuhan selama tiga hari.

Masyarakat diimbau tetap tenang, mengurangi paparan abu dan mengikuti informasi resmi dari petugas terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. *(DOD/RED)

- Advertisement -
space iklan 300x250
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
space iklan 300x250

Most Popular