LEBAK, INST-Media.id – Antrian sawit yang mengular di PTPN III PKS Kertajaya kini menjadi sorotan utama para petani kelapa sawit di Kabupaten Lebak. Keluhan mengenai antrean yang mencapai satu minggu menjadi semakin mengemuka, memicu kekhawatiran para petani bahwa hasil panen mereka terabaikan. Hal ini semakin terasa ketika TBS (tandan buah segar) milik perusahaan diprioritaskan tanpa harus mengantri.
Ukhri Hatmoko, Manager PKS Kertajaya, menjelaskan situasi yang kini dihadapi. Menurutnya, panjangnya antrian TBS Rakyat (pihak ketiga) disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk terbatasnya jumlah pabrik kelapa sawit di wilayah Banten. Saat ini, hanya ada dua pabrik, yaitu PKS Kertajaya dan PKS PT.GAL. Namun, PKS PT.GAL yang berlokasi di Sumur sedang mengalami kerusakan, sehingga seluruh TBS rakyat yang biasanya dikirim ke sana kini beralih ke PKS Kertajaya.

“Musim panen raya kelapa sawit ini terjadi pada periode Triwulan IV, dan saat ini kami tidak bisa menolak TBS dari kebun seinduk, yang otomatis menyebabkan antrean semakin panjang,” ungkap Ukhri, Senin (21/10/2024)
Meskipun PKS Kertajaya masih mampu mengolah TBS dengan kapasitas 900-1000 ton per hari, penerimaan TBS rakyat sudah mencapai batas maksimal, dengan rata-rata hanya 200-250 ton per hari. “Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk menampung TBS rakyat di Banten, tetapi kondisi ini memang menantang,” jelasnya.
Ukhri juga menyoroti pentingnya pembangunan pabrik baru di wilayah Banten sebagai langkah strategis untuk menangani lonjakan TBS yang terus meningkat. “Dengan pertumbuhan luas kebun kelapa sawit, sangat penting bagi kami untuk meningkatkan kapasitas pengolahan agar petani tidak lagi merasakan dampak dari antrean yang panjang,” tegasnya.
Kondisi ini tentu memerlukan perhatian dari pemerintah daerah untuk segera mencari solusi agar antrian sawit di PKS Kertajaya tidak berlarut-larut, demi kesejahteraan para petani di wilayah Lebak.*(RED)



