JAKARTA, INST-Media.id – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa tiga jenis bakteri patogen berbahaya menjadi pemicu utama insiden tersebut.
Temuan ini juga diperkuat dengan pernyataan seorang mantan Direktur WHO, yang menegaskan pentingnya sistem keamanan pangan dalam program berskala besar seperti MBG.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, bakteri Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli (E. coli) terdeteksi dalam sampel makanan yang dikonsumsi korban. Ketiga patogen ini dikenal luas sebagai penyebab penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) dengan gejala umum seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Eks Direktur WHO menilai, keberadaan patogen tersebut kemungkinan besar dipicu oleh penanganan makanan yang kurang higienis, penyimpanan pada suhu yang tidak tepat, serta kontaminasi silang dari peralatan masak maupun pekerja.
Ahli dari Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat menjelaskan bahwa makanan yang kaya zat gizi seperti protein, lemak, dan karbohidrat sangat rentan menjadi media pertumbuhan bakteri.
Untuk mencegah kontaminasi, makanan seharusnya disimpan pada 0–4 °C bila akan diuji dalam 24 jam, atau dibekukan hingga –18 °C jika pemeriksaan dilakukan lebih lama.
Sayangnya, standar ini diduga tidak sepenuhnya diterapkan dalam distribusi MBG, sehingga memperbesar risiko bakteri berkembang biak sebelum makanan sampai ke tangan penerima.
Sejumlah korban melaporkan mengalami gejala keracunan akut, mulai dari muntah, diare hebat, hingga dehidrasi. Beberapa kasus bahkan harus mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di rumah sakit.
Petugas medis menekankan pentingnya penanganan cepat. Langkah awal bisa dilakukan dengan mengonsumsi cairan elektrolit seperti oralit untuk mencegah dehidrasi.
Namun, jika gejala terus memburuk misalnya muntah berulang, diare berdarah, atau kesulitan bernapas pasien harus segera mendapat perawatan medis intensif.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan kelompok rentan. Namun, insiden keracunan massal ini menjadi alarm bahwa keamanan pangan tak boleh diabaikan dalam implementasi program.
Eks Direktur WHO menegaskan bahwa setiap distribusi makanan skala besar wajib memiliki standar ketat mulai dari rantai pasok, pengolahan, distribusi, hingga pengawasan. Tanpa itu, niat baik program bisa berbalik membawa risiko kesehatan bagi masyarakat.



