SERANG, INST-Media.id – Kasus mutilasi yang mengguncang warga Serang, Banten, terus mengundang perhatian publik. Korban, seorang perempuan muda yang diduga sedang hamil, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Pelakunya adalah pacarnya sendiri, M (21), yang diduga nekat melakukan aksi keji itu usai terjadi cekcok.
Namun, menurut Tia Rahmania, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Provinsi Banten, kasus ini tak bisa dilihat semata karena pelaku terbakar emosi.
“Kalau hanya emosi, orang masih bisa berpikir jernih. Tapi ini lebih dari itu. Ada tekanan batin, rasa takut, dan ketidaksiapan mental yang jadi pemicu,” ujar Tia melalui video di akun Instagram resminya dikutip, Selasa (22/4/2025).
Tia menilai pelaku kemungkinan merasa terpojok saat korban menuntut pertanggungjawaban atas kehamilan. Emosi memuncak dan logika pun tertutup. Tapi yang mengejutkan, kata Tia, tindakan mutilasi justru bisa saja merupakan keputusan lanjutan yang muncul setelah pembunuhan terjadi.
“Kalau dia harus pulang dulu ambil alat, itu menandakan mutilasi bukan rencana awal. Tapi ini tetap menunjukkan ada kesadaran dalam prosesnya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, pendidikan berperan besar dalam mengendalikan emosi dan berpikir panjang. “Orang yang terbiasa mempertimbangkan konsekuensi, tidak akan bertindak sebrutal ini,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Donald Rinaldi dari RS Bhayangkara mengungkap bahwa korban sempat masih hidup saat dimutilasi dan juga mengalami luka bakar. Fakta ini membuat keluarga korban menuntut hukuman mati bagi pelaku.
Tia mengingatkan agar publik tidak langsung melabeli pelaku dengan sebutan “gila”. “Ada proses asesmen untuk menyatakan itu. Jangan asal tuduh,” tegasnya.
Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Namun, analisis psikolog seperti Tia membantu membuka wawasan publik di balik tindakan keji seperti ini. *(EPL/RED)



