Friday, June 5, 2026
header ads 728x90
HomeOpiniMahasiswa Harus Fokus: Masalah Kita Adalah Wakil Rakyat, Bukan Polri

Mahasiswa Harus Fokus: Masalah Kita Adalah Wakil Rakyat, Bukan Polri

- Advertisement -
space iklan 300x250
- Advertisement -

Oleh: H. Pujiyanto – Aktivis Muda Banten, Putra Goib

Empat hari terakhir bangsa ini kembali diguncang gelombang protes mahasiswa. Jalanan Senayan riuh oleh orasi, spanduk berkibar, aparat berjajar mengawal. Namun dari keramaian itu, satu tragedi menyayat nurani: Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

Affan bukan aktivis, bukan tokoh politik. Ia hanyalah anak muda sederhana yang bekerja demi keluarga, tetapi pulang dalam keadaan terbujur kaku. Tragedi ini bukan insiden biasa. Ia menjadi alarm keras bahwa ada yang salah dalam cara negara menjaga warganya. Nyawa rakyat kecil kembali menjadi korban di tengah hiruk pikuk politik elite.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Mahasiswa Garda Moral, Jangan Lupa Fokus

Sejarah mencatat, dari 1966 hingga 1998, mahasiswa selalu menjadi garda moral bangsa. Mereka berdiri menekan kekuasaan agar berpihak pada rakyat. Namun sejarah juga mengingatkan: setiap kali gelombang besar muncul, selalu ada yang mencoba menunggangi. Ada elite yang melihat darah mahasiswa sebagai tiket politik.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Karena itu, sasaran pergerakan hari ini harus jelas: DPR RI adalah sumber masalah utama. Parlemen adalah rumah rakyat, dan jika rakyat marah, pintu pertama yang harus diketuk adalah DPR. Di sanalah kebijakan lahir, dan di sanalah suara rakyat wajib diperdengarkan. Bila mereka tuli, rakyat berhak mengetuk lebih keras.

Jaga Kemurnian Gerakan

Di balik gelombang demonstrasi, ada bahaya yang tak kalah besar: energi mahasiswa dipelintir oleh kepentingan politik sempit. Ada kelompok yang datang membawa spanduk, orasi, hingga narasi manis, namun tujuan utamanya bukan membela rakyat, melainkan merebut kursi kekuasaan.

Mahasiswa dan rakyat tidak boleh lengah. Gerakan harus tetap murni menegakkan keadilan, melindungi rakyat kecil, memastikan kekuasaan berpihak pada bangsa, bukan pada segelintir elite.

Tragedi Affan, Titik Balik Bersama

Kematian Affan harus jadi titik balik, bukan sekadar berita seminggu. Aparat digaji dari pajak rakyat, tugasnya melindungi, bukan mengorbankan. Namun jangan biarkan tragedi ini membuat kemarahan terfokus semata pada aparat. Ingat, aparat hanyalah tangan. Kepala dari semua kebijakan ada di parlemen. Jika DPR bekerja dengan benar dan mengawasi dengan sungguh-sungguh, insiden semacam ini dapat dicegah.

Menutup Barisan, Menjaga Persatuan

Saya menulis bukan untuk mencari nama. Saya tidak rela mahasiswa idealis diperalat, rakyat kecil dikorbankan, atau bangsa ini diadu domba. Untuk DPR, dengarlah suara rakyat sebelum sejarah melupakan kalian. Untuk aparat, lindungilah rakyat, jangan sampai dianggap musuh.

Dan untuk Affan, percayalah kematianmu tidak sia-sia jika bangsa ini belajar. Darahmu harus jadi pengingat bahwa perubahan bukan soal siapa duduk di kursi kekuasaan, melainkan siapa yang berani menjaga bangsa tetap utuh.

Gerakan sejati bukan siapa paling keras berteriak, tetapi siapa paling tulus menjaga persatuan. Mari arahkan energi ini ke DPR. Jika mahasiswa dan rakyat bersatu, tetap fokus, dan menolak ditunggangi, maka sejarah akan menulis: di masa bangsa hampir terpecah, rakyat memilih untuk bersatu.

- Advertisement -
space iklan 300x250
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
space iklan 300x250

Most Popular