LEBAK, INST-Media.id – Sudah lima tahun sejak bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong, Lebak, Banten. Tapi, sampai sekarang, ratusan warga yang menjadi korban bencana ini masih tinggal di huntara (hunian sementara) yang tidak layak. Sementara itu, warga korban bencana di daerah lain seperti Bogor sudah mendapat rumah tetap yang layak huni.
“Sama-sama korban bencana, tapi kenapa kami masih begini? Warga di Bogor sudah punya rumah, kami masih di huntara,” ujar Sani (42), salah seorang warga Huntara 2 Cigobang, pada Selasa (13/5/2025).
Pada awal 2020, bencana besar ini menghancurkan puluhan rumah dan menewaskan enam orang. Kampung Cigobang kini menjadi “kampung mati” karena banyak warganya yang trauma dan tidak berani kembali. Mereka lebih memilih tinggal di huntara dengan harapan mendapatkan rumah tetap.
Untuk mendapatkan air bersih, warga huntara harus bangun sejak subuh dan antre panjang di saluran sawah. “Kami antre mulai subuh, airnya dari saluran sawah. Kalau siang sudah habis, kami pakai air hujan untuk minum,” kata Sani.
Huntara tempat mereka tinggal juga sangat tidak layak. Selain air yang terbatas, bangunan huntara sering bocor saat hujan dan sangat panas di siang hari. “Kami hanya ingin rumah yang layak huni. Tempat yang bisa melindungi kami dari hujan dan panas,” kata Odah (50), penyintas lain yang juga tinggal di huntara tersebut.
Meskipun sudah lima tahun berlalu, janji pemerintah untuk relokasi warga Cigobang ke tempat yang lebih layak belum juga terwujud. Beberapa warga bahkan mulai mencari tanah sendiri untuk relokasi, berharap ada kepastian yang lebih jelas.
“Sudah lima tahun, tapi kami masih menunggu tanpa ada kejelasan,” keluh Odah. “Kami hanya ingin tempat yang lebih baik untuk hidup,” tambahnya.
Warga Sakit dan Tak Bisa Berobat

Selain masalah relokasi dan air, ada juga warga huntara yang kini tak bisa bekerja lagi karena sakit. Seorang pria paruh baya yang tinggal di huntara mengungkapkan bahwa ia menderita penyakit paru-paru. “Berobat gratis, tapi ongkos ke rumah sakit nggak ada. Motor juga nggak punya,” kata pria itu dengan nada sedih.
Sani mengungkapkan rasa kecewanya, terutama karena dia merasa nasib mereka tidak diperhatikan. “Presidennya sama, bupatinya juga dari keluarga yang sama. Tapi kenapa nasib kami masih begini?” ujarnya.
Data Penduduk Terdampak Bencana
Berikut adalah data lengkap warga yang terdampak bencana di Desa Banjarsari:
- Kampung Cinyiru: 42 KK (216 jiwa)
- Kampung Jaha: 4 KK (16 jiwa)
- Kampung Bungawati: 9 KK (43 jiwa)
- Huntara Cigobang 1–4: 177 KK (525 jiwa)
Warga Cigobang masih berjuang bertahan hidup di huntara, berharap bisa memiliki rumah yang layak huni dan akses air bersih. Mereka merasa kecewa dan terabaikan, karena di daerah lain seperti Bogor, korban bencana sudah mendapatkan rumah tetap. Namun di Cigobang, mereka masih menunggu janji yang tak kunjung datang.
Mereka hanya ingin kehidupan yang lebih baik, dengan rumah yang layak huni dan kepastian masa depan yang lebih baik. Sampai saat ini, harapan mereka masih terus hidup meski dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. *(RED)



