LEBAK, INST-Media.id – Di tengah tanah berdebu dan bilik-bilik kayu lapuk, ratusan keluarga di Huntara (Hunian Sementara) Cigobang, Kecamatan Lebak Gedong, Lebak, Banten masih bertahan hidup dalam kondisi serba kekurangan. Sudah lima tahun berlalu sejak banjir bandang dan longsor menghancurkan kampung mereka, namun harapan akan relokasi permanen kian memudar.

Komar, salah satu warga Huntara, dengan kondisi lemah menahan sakit. Ia mengidap penyakit paru-paru. Namun yang lebih menyakitkan bukan hanya penyakitnya, melainkan kenyataan bahwa ia harus menghentikan pengobatan karena tak punya ongkos ke rumah sakit.
“Kalau ke rumah sakit gratis pakai BPJS, tapi saya nggak punya uang buat ke sana. Nggak ada motor, nggak ada kendaraan,” kata Komar dengan suara lirih, saat ditemui di bilik sempit tempat tinggalnya, Selasa (13/5/2025).
Dulu, Komar bekerja sebagai buruh bangunan. Kini, tubuhnya yang lemah tak lagi sanggup mengangkat beban. “Angkat batu dikit aja udah sesak,” katanya. Untuk menyambung hidup, ia berjualan camilan seadanya demi anak-anaknya.
Hidup di Huntara tak hanya soal kesempitan ruang. Lingkungannya yang kotor dan penuh debu memperparah kondisi kesehatan warga. “Penyakit saya sempat sembuh dulu. Tapi sejak tinggal di sini, malah kambuh lagi,” jelas Komar.
Sang istri, Hamsinah, hanya bisa pasrah sambil menggendong bayi mereka yang masih kecil. Ia berharap ada tangan pemerintah yang benar-benar turun, bukan sekadar janji relokasi yang terus tertunda.
“Saya cuma ingin suami saya sembuh, dan kami bisa tinggal di rumah yang layak,” ucapnya lirih.
Cerita pilu juga datang dari Odah (50), warga lainnya. Ia masih mengingat betul malam bencana lima tahun lalu. “Saya lari cuma pakai baju tidur. Rumah, sawah, semuanya hilang,” kenangnya.
Kini, Odah tinggal di bilik reot dengan atap bocor dan dinding rapuh. Ia dan ratusan warga lain sudah lelah menunggu janji relokasi yang tak kunjung tiba. “Katanya mau dipindahkan, tapi sampai sekarang nggak jelas. Bahkan tanah buat relokasi kami cari sendiri,” katanya.
Kebutuhan dasar seperti air bersih pun masih jadi masalah. Sani, warga lainnya, menceritakan mereka harus malam-malam bangun pagi-pagi sekali untuk antre air dari saluran air sawah atau menampung air hujan.
“Kalau hujan, airnya kami tampung. Kalau enggak, harus antre subuh,” ujar Sani.
Sedikitnya total ada 177 kepala keluarga atau sekitar 525 jiwa yang masih bertahan di Huntara Cigobang. Mereka menggantungkan hidup dari bantuan dan usaha kecil, sementara janji-janji relokasi terus tertunda tanpa kepastian.
“Bupati sekarang adiknya bupati dulu. Presiden juga udah ganti, tapi nasib kami tetap begini. Di daerah lain sudah dibangunkan rumah, kami masih tinggal di huntara,” tutup Sani kecewa. *(RED)



