Saturday, April 25, 2026
header ads 728x90
HomeBeritaBantenSakit Tapi Tak Bisa Berobat: Potret Pahit Hidup di Huntara Cigobang Lebak

Sakit Tapi Tak Bisa Berobat: Potret Pahit Hidup di Huntara Cigobang Lebak

- Advertisement -
space iklan 300x250
- Advertisement -

LEBAK, INST-Media.id – Di tengah tanah berdebu dan bilik-bilik kayu lapuk, ratusan keluarga di Huntara (Hunian Sementara) Cigobang, Kecamatan Lebak Gedong, Lebak, Banten masih bertahan hidup dalam kondisi serba kekurangan. Sudah lima tahun berlalu sejak banjir bandang dan longsor menghancurkan kampung mereka, namun harapan akan relokasi permanen kian memudar.

Huntara Cigobang Lebak
Potret dari udara menunjukkan deretan huntara berdinding bilik dan beratap terpal dan Asbes bekas di Cigobang, Lebak, Banten. Warga masih bertahan di hunian sementara ini sejak 2020. (Foto: INST-Media)

Komar, salah satu warga Huntara, dengan kondisi lemah menahan sakit. Ia mengidap penyakit paru-paru. Namun yang lebih menyakitkan bukan hanya penyakitnya, melainkan kenyataan bahwa ia harus menghentikan pengobatan karena tak punya ongkos ke rumah sakit.

“Kalau ke rumah sakit gratis pakai BPJS, tapi saya nggak punya uang buat ke sana. Nggak ada motor, nggak ada kendaraan,” kata Komar dengan suara lirih, saat ditemui di bilik sempit tempat tinggalnya, Selasa (13/5/2025).

- Advertisement -
space iklan 300x250
Baca juga:  Bogor Sudah dapat Rumah, Warga Huntara Cigobang Lebak Masih Berjuang Cari Air Sawah

Dulu, Komar bekerja sebagai buruh bangunan. Kini, tubuhnya yang lemah tak lagi sanggup mengangkat beban. “Angkat batu dikit aja udah sesak,” katanya. Untuk menyambung hidup, ia berjualan camilan seadanya demi anak-anaknya.

Hidup di Huntara tak hanya soal kesempitan ruang. Lingkungannya yang kotor dan penuh debu memperparah kondisi kesehatan warga. “Penyakit saya sempat sembuh dulu. Tapi sejak tinggal di sini, malah kambuh lagi,” jelas Komar.

- Advertisement -
space iklan 300x250

Sang istri, Hamsinah, hanya bisa pasrah sambil menggendong bayi mereka yang masih kecil. Ia berharap ada tangan pemerintah yang benar-benar turun, bukan sekadar janji relokasi yang terus tertunda.

“Saya cuma ingin suami saya sembuh, dan kami bisa tinggal di rumah yang layak,” ucapnya lirih.

Cerita pilu juga datang dari Odah (50), warga lainnya. Ia masih mengingat betul malam bencana lima tahun lalu. “Saya lari cuma pakai baju tidur. Rumah, sawah, semuanya hilang,” kenangnya.

Baca juga:  Korban Banjir Cigobang Lebak Terlunta-lunta, DPRD Soroti Lambannya Proses Relokasi

Kini, Odah tinggal di bilik reot dengan atap bocor dan dinding rapuh. Ia dan ratusan warga lain sudah lelah menunggu janji relokasi yang tak kunjung tiba. “Katanya mau dipindahkan, tapi sampai sekarang nggak jelas. Bahkan tanah buat relokasi kami cari sendiri,” katanya.

Kebutuhan dasar seperti air bersih pun masih jadi masalah. Sani, warga lainnya, menceritakan mereka harus malam-malam bangun pagi-pagi sekali untuk antre air dari saluran air sawah atau menampung air hujan.

“Kalau hujan, airnya kami tampung. Kalau enggak, harus antre subuh,” ujar Sani.

Sedikitnya total ada 177 kepala keluarga atau sekitar 525 jiwa yang masih bertahan di Huntara Cigobang. Mereka menggantungkan hidup dari bantuan dan usaha kecil, sementara janji-janji relokasi terus tertunda tanpa kepastian.

Baca juga:  Sekda Lebak Akui Keterlambatan, Korban Longsor Cigobang Belum Juga Dapat Rumah Tetap

“Bupati sekarang adiknya bupati dulu. Presiden juga udah ganti, tapi nasib kami tetap begini. Di daerah lain sudah dibangunkan rumah, kami masih tinggal di huntara,” tutup Sani kecewa. *(RED)

- Advertisement -
space iklan 300x250
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
space iklan 300x250

Most Popular